Rabu, 13 April 2011

ANALISIS TOKOH RAMONA DALAM FILM RAMONA AND BEEZUS


Siswi kelas tiga Ramona Quimby memiliki imajinasi yang nyata, energi tak terbatas, selalu memiliki keinginan untuk bersenang-senang, berpetualang, kenakalan yang ada padanya dan kejenakaan rawan kecelakaan yang membuat semua orang sekitarnya sial, terutama kakaknya Beezus. Imajinasi plus energi yang berlebihan Ramona apabila dikombinasi benar-benar tidak dapat terbendung. Kasus yang terjadi pada Ramona dapat dianalisis menggunakan teori kognitif dimana kreativitas Ramona yang lebih menonjol.


Seiring dengan kemampuan Ramona untuk mengekplorasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan kemampuannya untuk bertanya hal-hal yang baru, maka dunia kognitif Ramona berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Kesanggupan jiwa membentuk tanggapan yang baru dengan pertolongan tanggapan yang telah ada, dinamakan berfantasi. Inilah yang sering dialami Ramona dalam menjalankan aktivitas keseariannya. Fantasi yang ada pada diri Ramona bersifat leluasa, bebas, tidak terikat, atau liar. Artinya dapat membuat gambaran khayal yang banyak dan luar biasa sehingga orang dewasa mengaggapnya berlebihan bahkan mustahil. Tidak jarang munculnya tanpa disadari (spontan), dan mudah sekali berubah. Misalnya saat Ramona bercerita di depan kelas, dia menceritakan saat dia bermain terjun dan melompati lubang besar bersama Howie sahabatnya di belakang rumah. Pada saat itu guru Ramona tidak mempercayai cerita Ramona dan dianggap berimajinasi. Pada saat itu Ramona memang berimajinasi, namun tidak tentang lubang di belakang rumahnya. Contoh lainnya adalah saat bermain di taman sekolah, dia sedang bergantungan disebuah permainan dan kemudian berimajinasi sedang bergantungan pada seutas tali di antara tebing yang curam.



Menurut Oswald Kroh (Zulkifli, 2006), membagi pengamatan dalam 4 taraf: sintesis fantasi (7-8 tahun), masa realisme naïf (8-10 tahun), masa realisme kritis (10-12 tahun), dan masa subjektif (12-14 tahun). Pada taraf ini, Ramona dapat dimasukkan dalam masa realisme kritis meskipun dia terbilang bermumur 9 tahun, karena dalam kognitifnya, dia mulai berpikir kritis. Nampak pada saat dia berusaha untuk membantu mengumpulkan uang dengan berbagai cara sebagai bentuk problem solvingnya untuk membantu keluarganya. Kemudian, pembelaan dirinya yang ingin dilihat seperti kakaknya dan adiknya. Ingin dilihat sebagai Ramona dan tidak dianggap sebagai pengacau.



Bila dilihat dari teori milik Vygotsky terkait “zone of proximal development”, Ramona merupakan anak yang memiliki banyak alternative problem solving, namun kurangnya dukungan keluarga dan teman sebaya membuat kemampuan tersebut kurang berkembang. Beberapa asumsi dasar Vygotsky dalam perkembangan kognitif adalah pertama, anak dapat mengerjakan tugas-tugas yang menantang bila dibimbing oleh seseorang yang lebih kompeten dan lebih maju daripada mereka. Tugas-tugas yang menantang akan mendorong pertumbuhan yang maksimum. Hal ini nampak pada lingkungan keluarga, Ramona yang dianggap belum mampu untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah mendapat bantuan dari Beezus, meskipun akhirnya Ramona membuat kekacauan di dapur. Ramona juga mendapat pengarahan dari Beezus untuk merawat Roberta (adiknya). Dengan scaffolding, Ramona mendapatkan bimbingan dan pengarahan dalam penyelesaian tugas-tugasnya, terutama sesuai denagn zona proximal-nya. Kedua, permainan memungkinkan anak berkembang secara kognitif. Hal ini nampak pada saat Ramona bermain gantungan di taman sekolah, pada saat ada perbaikan rumah sehingga terdapat lubang yang cukup besar kemudian menggunakannya untuk bermain bersama Howie sahabatnya, dan pada saat menggambar bersama ayahnya. Ramona berimajinasi kembali pada 3 moment tersebut. Karena imajinasi tersebut dapat membantu perkembangan kognitif Ramona.



Ramona yang berusia kurang lebih 9 tahun berada pada tahap masa anak-anak akhir yakni 7 sampai 12 tahun. Pada umur sekian, Ramona dapat dikategorikan dalam tahap operasional konkret milik Piaget. Operasional konkret adalah aktivitas ental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur. Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis. Namun sebaliknya, apabila benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang tidak ada hubungannya secara jelas dan konkret dengan realitas, masih sulit dipikirkan anak. Hal ini terlihat saat Ramona mendengar kabar bahwa rumahnya akan diambil oleh pihak bank, Ramona belum memahami istilah ini, sehingga dalam kognisinya Ramona justru membayangakan dengan suatu imajinasi jenaka khas anak-anak dimana rumahnya diambil oleh bank dengan menggunakan Crane besar dan dibawa pergi dari tempatnya. Hal ini tidaklah sesuai dengan realitas konkret tentang “rumah diambil oleh bank”. Namun, penalaran yang menyerupai orang dewasa telah muncul dengan berbagai cara yang dia lakukan demi menyelamatkan rumahnya. Ramona mendapatkan bantuan untuk memahami suatu objek atau peristiwa tersebut dari Beezus (pengalaman belajar yang dimediasi).



Kreativitas Ramona tidak melulu membuat bencana atau kenakalan saja. Namun, kognitif Ramona yang telah berkembang mampu memberi pengaruh yang cukup besar pada keluarganya. Terbukti dengan semakin dekatnya hubungan interpersonal Ramona dengan kakaknya, ayahnya dan ibunya.





REFERENSI

Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Zulkifli. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosda Karya.