Senin, 09 Januari 2012

REMAJA


Fashion = GAUL VS CUPU



Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan di dunia fashion, kita tau bahwa dunia fashion juga sama pesat perkembangannya dengan dunia teknologi. Hampir setiap hari tanpa kita sadari muncul model busana dan cara berbusana yang baru. Baik untuk pria maupun wanita. Namun, dunia fashion wanita lebih beragam jika dibandingkan dengan fashion pria. Sekarang, yang baru saja terhitung baru untuk tahun 2012, tengok saja majalah-majalah fashion yang sudah mengeluarkan jenis-jenis gaya busana yang terbaru. Bervariasi, modis, elegan, casual, dan yang pasti bikin mata selalu ingin mencoba dan memilikinya. Fashion pun sekarang tidak hanya berlaku bagi para orang dewasa, tapi bagi anak dan remaja juga bervariasi. Namun, dunia fashion remajalah yang lebih ramai di majalah-majalah, fashion.

Remaja… Sudah kita ketahui bersama bahwa mereka merupakan individu yang lebih suka mengekplorasi dengan rasa ingin tahu tinggi, dan selalu ingin mencoba. Tak ayal, jika kita kaitkan keberadaan remaja dengan dunia fashion amat sangat nggak mungkin untuk dilepaskan. Remaja, terutama remaja di kota-kota besar sangat menyukai hal ini. Mereka seolah berlomba-lomba menjadi sosok yang fashionable di mata orang lain, terutama teman-teman sebaya mereka. Mereka yang selalu Up-to-date mengenai fashion akan dianggap “GAUL” dan mereka yang nggak up-to-date dianggap “CUPU” alias CUlun PUnya. Dan dari dua istilah tersebutlah yang menjadi kunci utama mereka yang gaul akan menjadi perhatian, dan dikenal oleh lingkungan pergaulan mereka berada. Dan mereka yang cupu perlahan-lahan akan tersingkir dari lingkungan pergaulannya. Hal ini menjadi semacam “kasta” tersendiri di kalangan remaja kota sekarang.

 Sedikit picik memang hanya karena penampilan saja, mereka menggolong-golongkan seperti itu. Lihat saja yang terjadi sekarang di lingkungan remaja. Mereka yang tampak fashionable hampir selalu bersama mereka yang fashionable pula. Sedangkan yang tidak, ya… akan hampir selalu bersama yang tidak fashionable pula. Seperti yang terlihat di sinetron-sinetron yang ada sekarang ini, merupakan gambaran dari yang terjadi sesungguhnya di kalangan remaja saat ini. Setidaknya, memang itu yang terjadi di masa saya SMA dulu, dan masa-masa SMA remaja sekarang.
Remaja menilai penampilan fisik mereka karena mereka mulai memasuki wilayah social yang lebih luas dimana penerimaan dari lingkungan pergaulannya menjadi suatu hal yang penting bagi mereka. Selain itu, mereka menilai dirinya sendiri atas dasar perbandingan sosial. Bagi mereka, ketika mereka diterima oleh lingkungan, maka disitulah letak keeksistensian mereka diakui. Sedangkan mereka yang tidak diterima oleh lingkungan, akan mengalami suatu ketidakpercayaan diri, merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, hingga muncullah pribadi dengan self esteem rendah.
Konsep self sebagai bentuk kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Self memberikan sebuah kerangka berpikir yang menentukan bagaimana kita mengolah informasi tentang diri kita sendiri, termasuk motivasi, keadaan emosional, evaluasi diri, kemampuan dan banyak hal lainnya. Remaja bekerja sangat keras untuk melindungi citra diri dari hal-hal yang mengancam, serta untuk mempertahankan eksistensi diri.
Permasalahannya tidak berhenti sampai disini. Yang lebih parah lagi apabila muncul kasus remaja bunuh diri dengan faktor penyebab ditolak dan dikucilkan dalam pergaulan. Lingkungan pergaulan bagi para remaja adalah hal yang sangat penting. Makanya, ketika mereka merasa tersingkir lingkungan pergaulannya seorang remaja seperti ditolak oleh seluruh dunia. Wah, gawat kalau sudah begini. Hal ini yang membuat para remaja berlomba-lomba menunjukkan penampilan mereka dalam berpakaian sebaik mungkin, semenarik mungkin, dan se-up-to-date mungkin dengan harapan mereka menjadi bagian dari remaja yang “gaul” dan diterima oleh lingkungan pergaulan mereka. Dan tentunya masuk dalam kasta gaul. Tidak ada diantara mereka mendapat label cupu, tidak gaul, dan lain sebagainya. Karena penampilan adalah salah satu bentuk identitas mereka di lingkungan pergaulannya.
Terlebih lagi adalah, karena saking inginnya mengeksplorasi dan ingin mencoba hal-hal yang baru, tak sedikit remaja-remaja kita yang nekat berbusana dengan ala orang dewasa bahkan hingga nekat berpenampilan layaknya seorang remaja dengan pakaian yang serba terbuka demi mendapatkan perhatian. Hal ini semakin menambah peliknya permasalahan remaja di dunia fashion dengan lingkungan pergaulannya.