Fashion = GAUL VS CUPU
Seiring dengan berjalannya
waktu dan perkembangan di dunia fashion, kita tau bahwa dunia fashion juga sama
pesat perkembangannya dengan dunia teknologi. Hampir setiap hari tanpa kita
sadari muncul model busana dan cara berbusana yang baru. Baik untuk pria maupun
wanita. Namun, dunia fashion wanita lebih beragam jika dibandingkan dengan
fashion pria. Sekarang, yang baru saja terhitung baru untuk tahun 2012, tengok
saja majalah-majalah fashion yang sudah mengeluarkan jenis-jenis gaya busana
yang terbaru. Bervariasi, modis, elegan, casual, dan yang pasti bikin mata
selalu ingin mencoba dan memilikinya. Fashion pun sekarang tidak hanya berlaku
bagi para orang dewasa, tapi bagi anak dan remaja juga bervariasi. Namun, dunia
fashion remajalah yang lebih ramai di majalah-majalah, fashion.
Remaja… Sudah kita ketahui
bersama bahwa mereka merupakan individu yang lebih suka mengekplorasi dengan rasa
ingin tahu tinggi, dan selalu ingin mencoba. Tak ayal, jika kita kaitkan
keberadaan remaja dengan dunia fashion amat sangat nggak mungkin untuk
dilepaskan. Remaja, terutama remaja di kota-kota besar sangat menyukai hal ini.
Mereka seolah berlomba-lomba menjadi sosok yang fashionable di mata orang lain,
terutama teman-teman sebaya mereka. Mereka yang selalu Up-to-date mengenai
fashion akan dianggap “GAUL” dan mereka yang nggak up-to-date dianggap “CUPU”
alias CUlun PUnya. Dan dari dua istilah tersebutlah yang menjadi kunci utama
mereka yang gaul akan menjadi perhatian, dan dikenal oleh lingkungan pergaulan mereka
berada. Dan mereka yang cupu perlahan-lahan akan tersingkir dari lingkungan pergaulannya.
Hal ini menjadi semacam “kasta” tersendiri di kalangan remaja kota sekarang.
Sedikit picik memang hanya karena penampilan saja,
mereka menggolong-golongkan seperti itu. Lihat saja yang terjadi sekarang di
lingkungan remaja. Mereka yang tampak fashionable hampir selalu bersama mereka
yang fashionable pula. Sedangkan yang tidak, ya… akan hampir selalu bersama
yang tidak fashionable pula. Seperti yang terlihat di sinetron-sinetron yang
ada sekarang ini, merupakan gambaran dari yang terjadi sesungguhnya di kalangan
remaja saat ini. Setidaknya, memang itu yang terjadi di masa saya SMA dulu, dan
masa-masa SMA remaja sekarang.
Remaja menilai penampilan
fisik mereka karena mereka mulai memasuki wilayah social yang lebih luas dimana
penerimaan dari lingkungan pergaulannya menjadi suatu hal yang penting bagi
mereka. Selain itu, mereka menilai dirinya sendiri atas dasar perbandingan sosial.
Bagi mereka, ketika mereka diterima oleh lingkungan, maka disitulah letak
keeksistensian mereka diakui. Sedangkan mereka yang tidak diterima oleh
lingkungan, akan mengalami suatu ketidakpercayaan diri, merasa tidak nyaman
dengan diri sendiri, hingga muncullah pribadi dengan self esteem rendah.
Konsep self sebagai bentuk
kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendiri yang terorganisasi.
Self memberikan sebuah kerangka berpikir yang menentukan bagaimana kita
mengolah informasi tentang diri kita sendiri, termasuk motivasi, keadaan
emosional, evaluasi diri, kemampuan dan banyak hal lainnya. Remaja bekerja
sangat keras untuk melindungi citra diri dari hal-hal yang mengancam, serta untuk
mempertahankan eksistensi diri.
Permasalahannya tidak
berhenti sampai disini. Yang lebih parah lagi apabila muncul kasus remaja bunuh
diri dengan faktor penyebab ditolak dan dikucilkan dalam pergaulan. Lingkungan
pergaulan bagi para
remaja adalah hal yang sangat penting. Makanya, ketika mereka merasa tersingkir
lingkungan pergaulannya seorang remaja seperti ditolak oleh seluruh dunia. Wah,
gawat kalau sudah begini. Hal ini yang membuat para remaja berlomba-lomba menunjukkan penampilan
mereka dalam berpakaian sebaik mungkin, semenarik mungkin, dan se-up-to-date
mungkin dengan harapan mereka menjadi bagian dari remaja yang “gaul” dan
diterima oleh lingkungan pergaulan mereka. Dan tentunya masuk dalam kasta gaul. Tidak ada diantara mereka mendapat label cupu, tidak gaul, dan lain sebagainya. Karena penampilan adalah salah satu bentuk identitas mereka di lingkungan pergaulannya.
Terlebih lagi adalah,
karena saking inginnya mengeksplorasi dan ingin mencoba hal-hal yang baru, tak
sedikit remaja-remaja kita yang nekat berbusana dengan ala orang dewasa bahkan
hingga nekat berpenampilan layaknya seorang remaja dengan pakaian yang serba
terbuka demi mendapatkan perhatian. Hal ini semakin menambah peliknya permasalahan
remaja di dunia fashion dengan lingkungan pergaulannya.

