Bunga, sebuah nama yang indah dan menawan. Jelas menggambarkan seorang gadis cantik jelita di SMA Nusantara Jakarta yang selalu dipuja-puja para murid cowok SMA tersebut. Nggak ada yang nggak kenal Bunga, cewek periang, murah senyum dan gaya berpenampilannya terkenal modis namun tetap sopan sehingga selalu memikat mata tiap orang yang melihatnya. Bahkan para guru pun suka dengan Bunga karena dia salah satu cewek cerdas dan berprestasi di sekolah.
Suatu hari Bunga akan berangkat ke sekolah bersama sahabatnya, Arsyad. Seperti biasa, dia menunggu Arsyad di perempatan jalan dekat rumahnya. Mereka sudah cukup lama melakukan praktek berangkat sekolah bareng dengan sembunyi-sembunyi seperti ini. Mereka lakukan hal ini bukan karena iseng, tapi lebih dikarenakan om Rohim paman Bunga, tidak suka melihat keponakan satu-satunya yang paling disayanginya itu dekat-dekat dengan makhluk yang namanya cowok (padahal om Rohim juga cowok), terutama Arsyad. Entah karena apa om Rohim benci banget dengan Arsyad. Tiap Bunga tanya, om Rohim nggak mau jelasin ada apa sebenernya. Namun, karena Bunga punya sifat agak cuek, dia nggak begitu perduli dengan larangan om Rohim, asalkan dia nggak ketahuan om-nya, dia tetep aja nekat buat deket sama cowok, terutama Arsyad.
Saat Bunga menunggu Arsyad, dia nggak sadar kalau om Rohim sedari tadi mengikuti dan memperhatikan Bunga dari balik pos ronda yang ada di pojokan jalan. Tak berapa lama Bunga menunggu, Arsyad pun datang juga dengan motor. Saat Bunga naik ke boncengan belakang motor Arsyad, dengan cepat Om Rohim menarik tangan kiri Bunga hingga Bunga hampir terjatuh. Namun dia masih bisa menguasai tubuhnya hingga dia nggak sampai terjatuh, malu juga kalau dia sampai terjatuh di pinggir jalan yang ramai itu, batinnya.
“Bunga... sudah berapa kali om bilang, Kamu jangan bergaul dengan anak bajingan ini!!!” bentak om Rohim.
“Om Rohim jangan gitu donk bicaranya, Arsyad ini kan teman baik Bunga!” Bunga nggak mau kalah.
“Apa??? Apa om nggak salah denger?! Anak bajingan seperti dia, Kamu bilang teman baik? Ayo cepat ikut om pulang!”
“Om Rohim apa-apaan sih?! Malu dilihatin orang banyak Om.” Sambil berusaha untuk melepas cengkraman tangan om Rohim yang bikin pergelangan tangan Bunga agak sakit saking kuatnya cengkraman om Rohim.
“Udahlah Bunga, gue sudah biasa dihina seperti ini. Loe jangan membantah om Loe, sebaiknya Loe turuti perintah om Rohim!” Arsyad menengahi pembicaraan Bunga dengan om Rohim yang sedari tadi semakin memanas.
“Ahhh... Kamu nggak usah ikut campur urusan ku, dasar anak bajingan!!! Jangan Kamu dekat-dekat dengan keponakanku Bunga!”
“Tapi Om... Bunga kan mau pergi ke sekolah.”
“Hari ini Kamu nggak perlu pergi ke sekolah! Sekarang ayo cepat ikut om pulang!!!” bentak om Rohim sambil menyeret tanagan Bunga yang sedari tadi belum dilepaskannya.
“Tapi Om...!”
“AYO CEPAT!!!” teriak om Rohim, hingga puluhan pasang mata memandang ke arah mereka bertiga.
Bunga tak kuasa menahan tarikan om Rohim di tangannya, terpaksa dia mengikuti kemauan om Rohim. Bunga sempat menoleh ke arah Arsyad di belakang, sambil berumik kecil di bibirnya, dia mengucapkan kata, “Maaf!”. Arsyad pun mengangguk perlahan sambil tetap tersenyum menandakan bahwa dia nggak apa-apa dan dia akan baik-baik saja. Bunga kembali menoleh ke depan sambil mengikuti langkah kaki om Rohim yang cepat itu.
Sesampainya Bunga di rumah, om Rohim langsung menyuruh Bunga untuk duduk di ruang keluarga. Bunga kembali dimarahi om Rohim untuk kesekian kali. Om Rohim marah pada Bunga bukan karena alasan yang nggak jelas, tapi karena om Rohim sangat sayang pada Bunga, dan tidak ingin menghancurkan masa depan Bunga hanya karena urusan cowok, terutama Arsyad. Om Rohim menjadi sangat protectif pada Bunga semenjak ayah Bunga meninggalkan Bunga dan Ibunya karena alasan yang tak jelas dan akhirnya Ibu Bunga meninggal dunia. Semenjak itu, Bunga menjadi tanggung jawab om Rohim sebagai adik dari Ibu Bunga.
Bunga nampak kuyu dan lesu setelah apa yang terjadi dengannya barusan. Bunga merasa tak enak hati dengan Arsyad karena perlakuan om Rohim barusan. Meski Arsyad tersenyum, namun Bunga tetap yakin Arsyad benar-benar sakit hati atas kejadian yang menimpanya dan Arsyad. Nampak sekali di raut muka Arsyad yang mendung saat Bunga pergi meninggalkanya tadi. Bunga terus terbayang dengan muka Arsyad saat itu, dia merasa semua ini terjadi karena kesalahannya.
“BUNGA!!!” bentak om Rohim membuyarkan lamunannya dalam sekejap.
“I... iya Om?!” nampak suara Bunga bergetar karena gelagapan dan bingung.
“Kamu nggak mendengarkan perkataan om barusan?”
“De... dengar kok Om”
“Pasti Kamu sedang memikirkan anak bajingan itu kan, Bunga?”
“Sebenarnya Om kenapa sih nggak suka kalau Bunga deket-deket sama temen cowok Bunga?”
“Bunga... Kamu itu keponakan kesayangan om Rohim satu-satunya, bahkan om Rohim sudah anggap Kamu sebagai anak om Rohim sendiri. Jadi om Rohim nggak pingin melihat Kamu disakiti sama cowok, apalagi dipermainkan cowok!”
“Makasih banyak Om, kalau Om Rohim udah anggap Bunga sebagai anak Om Rohim sendiri. Bahkan merawat Bunga dari kecil sampai Bunga segede gini. Bunga hargai itu. Tapi Om, Bunga tu udah gede, Bunga bisa jaga diri Bunga sendiri, Om Rohim nggak perlu kuatir sama Bunga!”
“Tapi meski Kamu udah gede pun nggak menjamin untuk bisa menjaga diri Kamu sendiri. Apalagi dari yang namanya cowok”
“Kalu Om Rohim anggap Bunga seperti anak kecil terus gini, kapan Bunga berkembang? Kapan Bunga menjadi dewasa Om? Bunga pingin menjalani masa-masa muda Bunga dengan keceriaan, dengan persahabatan dan Percintaan untuk Bunga bisa belajar berhubungan lebih deket dengan cowok!”
Suasana tiba-tiba menjadi hening
“OK! Om Rohim ijinkan Kamu berhubungan dengan teman-teman cowokmu.”
“Yes!!!!” suara Bunga menyeringai kegirangan.
“Tapi...”
“Tapi apa Om?”
“Tidak untuk anak bajingan itu!”
“Tapi kenapa Om?”
“Pokoknya kalau om bilang nggak boleh ya nggak boleh!”
“Nggak bolehkan pasti ada alasannya Om! Apa alasan Om Rohim nggak perbolehin Bunga untuk deket sama Arsyad?”
“Karena... karena kehadirannyalah yang membuat ibumu mati bunuh diri 15 tahun silam.”
Deg. Ucapan terakhir om Rohim membuat Bunga nggak mampu berkata apapun. Dia hanya menghela nafas panjang sambil menghempaskan dirinya di sofa, seolah dia baru saja disambar petir disiang bolong tanpa adanya hujan.
“Bu... bunuh diri? Bukankah dulu Om Rohim bilang kalau Ibu Bunga meninggal karena sakit keras?” suara Bunga bergetar menahan tangisnya.
“Iya, om dulu memang bilang seperti itu padamu karena om nggak tega kalau Kamu tau yang sebenarnya disaat Kamu masih berumur 2 tahun.”
“Tapi kenapa Om Rohim baru bilang sekarang ke Bunga?” Bunga tak kuasa menahan tangisnya.
“Karena om Rohim anggap saat ini sudah waktunya Kamu tau yang sebenarnya mengenai ibumu!”
“Lalu apa hubungan kematian ibu Bunga dengan Arsyad, Om?”
“Karena... karena ayahmu meninggalkan ibumu demi dia dan ibunya!”
“Apa maksud perkataan Om barusan?”
“Dulu saat ayahmu menikah dengan ibumu, ternyata ayahmu sudah pernah berhubungan dengan wanita lain. Wanita itu bernama Rima. Awalnya ayahmu berniat meninggalkan Rima dan berpaling kepada ibumu. Setelah menjalani pernikahan dengan ibumu selama 4 tahun, saat itu Kamu berusia 10 bulan, tak disangka-sangka wanita itu bertemu kembali dengan ayahmu setelah dia kehilangan jejak ayahmu. Wanita itu mengatakan bahwa dia telah mempunyai seorang anak laki-laki hasil dari hubungan gelap ayahmu dengan wanita itu sebelum menikah dengan ibumu. Saat itu anaknya telah berusia 1 tahun. Karena ayahmu benar-benar mendambakan seorang anak laki-laki, maka ia mengambil keputusan untuk memilih wanita itu dibandingkan ibumu dan Kamu. Setelah kejadian itu, ibumu nampak stres dan frustasi. Ibumu sudah nggak mampu menahan beban mental yang terlalu berat. Akhirnya ibumu mengambil keputusan untuk bunuh diri disaat keadaan rumah yang sepi karena om Rohim sedang mengajakmu jalan-jalan waktu itu. Sejak itu om Rohim benar-benar menjagamu, merawatmu dan menyayangimu dengan sepenuh hati om Rohim. Dan om Rohim tidak ingin Kamu mengalami hal yang sama dengan ibumu kelak. Terlebih lagi dengan anak bajingan itu yang tak lain adalah anak hasil hubungan gelap ayahmu dengan Rima!”
Bunga tak mampu berkata sepatah kata pun saat itu. Dia benar-benar nggak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari om Rohim cerita yang sebenarnya. Dia hanya terdiam dan menangis sejadi-jadinya saat itu.
Keesokan harinya Bunga nampak nggak bersemangat banget. Matanya kelihatan sembab akibat menangis terus sejak kemarin. Bunga yang selalu ceria kini lenyap bagaikan es yang mencair kemudian menguap di terik matahari. Dia jadi sering banget nglamun disaat guru sedang menerangkan pelajaran di kelas. Dan yang paling mencolok dan bikin penasaran temen-temenya satu kelas adalah saat Bunga minta pindah tempat duduk untuk menjauhi Arsyad. Tiap Arsyad nyamperin Bunga, dia pergi gitu aja seolah Bunga enggan bertemu dan benci banget dengan Arsyad. Padahal selama ini Bunga nggak pernah jauh-jauh dari Arsyad. Bahkan mereka seperti perangko yang tak pernah terlepaskan. Di mana ada Bunga di situ pasti ada Arsyad. Perubahan sikap Bunga yang drastis membuat Arsyad pun jadi tambah pusing. “Ada apa dengan Bunga?” batinnya dan temen-temennya.
Citra, temen deket Bunga yang kedua setelah Arsyad pun nggak sanggup melihat temenya muram terus-menerus. Citra mengambil inisiatif untuk segera berbicara dengan Bunga, sebenarnya apa yang terjadi dengan Bunga?
“Bunga, Loe kenapa sih kok jadi kayak gini? Loe ada masalah apa? Cerita donk ke gue, gue kan juga temen Loe. Siapa tau gue bisa ngasih pendapat atau solusi atas masalah Loe!” Citra mendekati Bunga dengan kalem dan merangkul pundak sahabatnya itu dari samping.
“Gue nggak apa-apa kok!” jawab Bunga dengan singkat.
“ Loe pasti bo’ong. Ya ampun Bunga, kelihatan banget kalau Loe sekarang pasti ada apa-apa!”
“Suer... Gue nggak apa-apa, Gue cuman ngantuk aja dari kemarin belum tidur, hehe...” Bunga berusaha meyakinkan temenya itu.
“Ya ampun Bunga... lelucon Loe tu garing banget! Meski Loe berusaha nyembunyiin dari gue, gue tetep tau kalau Loe ada masalah!!! Dan pasti ini semua pasti ada hubungannya dengan Arsyad-kan?” wajah Citra menampakkan kalau dia lagi serius saat ini.
“Emm... baik lah!”
Karena citra pandai benget mendesak Bunga, Bunga pun nyerah juga. Bunga menceritakan semua masalah yang terjadi padanya. Bunga cerita detail banget hingga semua kejadian kemarin nggak ada yang terlewatkan sedikit pun. Setelah Bunga menceritakan semuanya, Citra pun sempet nggak percaya dengan semua cerita Bunga. Terlebih lagi hubungan antara Bunga dengan Arsyad yang sekarang sudah berbeda nggak seperti dulu. Namun Citra juga nggak bisa berbuat apa-apa, Dia hanya bisa menyarankan kepada Bunga untuk tetap sabar menghadapi semua ini. Citra meyakinkan Bunga untuk tetep percaya kalau ada suatu hikmah dibalik semua peristiwa ini. Setidaknya Bunga sudah bisa membagi semua masalah dan kesedihannya kepada orang lain, sehingga Bunga merasa sedikit lebih ringan bebannya sekarang.
“Tapi Loe janjikan kalau nggak bakal bilang ke siapa-siapa!” pinta Bunga.
“Tenang aja... semua rahasia Loe aman di tangan gue!” jawab Citra dengan yakin.
“Thanks banget ya Cit, Loe emang temen terbaik gue”
“Ci... ip deh!” sambil mengacungkan jempol dan mengerlingkan matanya yang sebelah kanan menendakan kalau dia bisa dipercaya.
Tidak seperti biasanya, kali ini Bunga harus pulang sekolah sendirian sama seperti saat Bunga berangkat ke sekolah tadi pagi. Tanpa ada Arsyad yang menemaninya, Bunga berjalan dengan perlahan sambil memandang jalan di bawahnya, entah apa yang dilihatnya. Seperti ada sesuatu yang sedang membayangi pikirannya. Tiba-tiba ada yang memegang dan menyeret tangan kanan Bunga dengan cepat ke arah tengah lapangan basket yang tepat berada di tengah-tengah sekolah sehingga Bunga kaget setengah mati. Orang itu ternyata Arsyad. kayaknya ada sesuatu yang penting dan ingin dibicarakannya dengan Bunga.
“EH... APA-APAAN SIH LOE?!! LEPASIN!!!” teriak Bunga sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Arsyad yang akhirnya dapat dilepasnya dan menghentikan langkahnya.
“Bunga... Loe kenapa sih dari tadi kayaknya Loe dingin banget dan berusaha ngindarin gue?”
“Ouw... Cuman pingin ngomongin hal itu?! Kayaknya nggak penting, gue mau pulang!” sambil memalingkan badan dan pergi meninggalkan Arsyad. Namun Arsyad dapat mencegah Bunga untuk pergi. Dengan segera dia meraih tangan Bunga kembali.
“AH... LEPASIN!!!” teriak Bunga lagi.
“BUNGA...!Jawab dulu pertanyaan gue!!!”
“Ok gue jawab! Gue emang sengaja ngindarin Loe karena gue udah males deket-deket Loe.”
“Emangnya gue punya salah apa sama Loe?”
“Loe nggak salah apa-apa. Gue cuman pingin nuruti kata-kata om gue.”
“Tapi kenapa tiba-tiba gini sih Bunga?”
“Kayaknya untuk yang itu gue nggak perlu jawab! Gue mau pulang!” sambil kembali memalingkan badannya dan melangkah pulang.
Kali ini Arsyad tetep diam di tempatnya berdiri dan nggak berusaha untuk mengejar Bunga. Setelah Bunga berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Arsyad berteriak dengan kerasnya, hingga beberapa murid yang masih belum pulang dan berada di sekitarnya, dapat mendengarkan apa yang dikatakan Arsyad.
“BUNGA... GUE SAYANG SAMA LOE!!!” teriak Arsyad hingga membuat Bunga berhenti sejenak dan kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “BUNGA... GUE SUKA SAMA LOE, DAN GUE CINTA SAMA LOE!!!” teriak Arsyad yang membuat Bunga bener-bener menghentikan langkahnya.
“Loe terlalu bodoh untuk mengucapkan kalimat itu!” kata Bunga
“Apa maksud Loe?” tanya Arsyad nampak bingung dengan tanggapan Bunga yang dingin.
“Ya... Loe terlalu bodoh untuk mengerti apa sebenarnya yang terjadi antara kita berdua!”
“Bunga... sudah sejak lama gue suka sama Loe, tapi gue nggak punya keberanian untuk mengucapkan itu semua karena gue takut kalau Loe nggak suka sama gue dan Loe nggak mau berteman lagi sama gue. Tapi kali ini gue beraniin diri gue untuk bilang ini semua, karena gue bener-bener sayang sama Loe!”
“Jujur gue akui, gue benci sama Loe dan gue sayang sama Loe!”
“Apa maksudnya?”
“Gue benci sama Lo karena suatu kenyataan yang bener-bener menyakitkan dan nggak bisa gue terima dengan mudahnya. Dan gue emang sayang sama Loe, tapi hanya rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya dan nggak bisa lebih dari itu. Karena kita adalah saudara. Saudara sedarah.” Bunga mencoba menahan tangisnya.
“Bunga... Loe nggak usah ngaco deh, nggak lucu tau!!!”
“Apa wajah gue memperlihatkan kalau gue sedang ngaco he?!” Bunga bener-bener tak kuasa menahan tangisnya.
“Bagaimana bisa kita ini saudara?”
“Karena ayah kita adalah orang yang sama!!!”
Bunga pun langsung pergi berlari meninggalkan Arsyad. Kerena Arsyad merasa kurang puas dengan jawaban Bunga barusan, Arsyad pun berusaha mengejar Bunga. Saat Bunga sudah keluar dari gerbang sekolah dan berusaha menyeberang jalan raya yang cukup ramai, Bunga nggak menyadari ada sebuah taksi yang melaju dengan kencangnya. Arsyad yang menyadari hal tersebut segera berteriak untuk memberi tau Bunga, “BUNGA... AWAS...!!!” Arsyad pun berlari berusaha untuk menyelamatkan Bunga. Saat taksi itu bener-bener udah deket, Arsyad dengan segera mendorong Bunga ke tepi jalan dengan harapan Bunga tak sampai tertabrak. Tiba-tiba...
“BRAAKKK!!!” terdengar suara mobil menghantam sesuatu. Namun, Bunga baik-baik saja hanya mengalami sedikit lecet di sikut dan kedua lututnya. Lalu suara hantaman apakah itu? Bunga memang dapat selamat. Namun, sesokok tubuh yang terpental, terkapar tak berdaya dengan darah bercucuran di bagian kepala, tangan dan kakinya di jalan sejauh 2 meter dari asal kejadian tabrakan.
Bunga berusaha bangkit dan berjalan menuju tempat itu. Betapa kagetnya dia saat melihat tubuh yang terkapar tak berdaya dengan tubuh penuh darah itu adalah Arsyad, kakaknya. Dengan segera Bunga mendekat dan bersimpuh di sebelah Arsyad sambil menangis sejadi-jadinya.
“Arsyad... bangun Arsyad! Gue mohon jangan tinggalin gue! Gue sayang banget sama Loe. Please... bangun Arsyad!!!” sambil menangis dan meletakkan kepala Arsyad dipangkuannya tanpa memperdulikan orang-orang yang berkumun di antara mereka berdua.
“Bu... Bung... a, ma... maafin gue! Ma... afin semua ke... salahan... gue se... lama ini!” ucap Arsyad dengan terbata-bata yang membuat Bunga semakin nggak tega dengan keadaan Arsyad yang seperti ini. “Gu... Gue... sayang sa... sama Loe!!!” ucapan Arsyad untuk yang terakhir kalinya, setelah itu Arsyad menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Bunga, adik kandungnya yang kemudian langsung Bunga peluk dengan erat.
“ARSYAD!!!!! TIDAK!!!!!” teriak Bunga memanggil nama Arsyad. Kejadian ini membuat seluruh mata orang yang memandangnya nanar dan menangis terharu.
1 tahun setelah sepeninggalnya Arsyad, akhirnya om Rohim menikah juga. Sudah Lama Bunga nggak melihat om Rohim benar-benar bahagia. Om Rohim menikah dengan tante Rima, ibu Arsyad. Itu semua terjadi berkat kerja keras dan usaha Bunga untuk meyakinkan om Rohim agar dapat merelakan dan menerima semua yang telah terjadi dulu. Sikap om Rohim pun bener-bener berubah setelah menikah dengan tante Rima.
Akhirnya keinginan Bunga untuk mempunyai ayah dan ibu pun terkabulkan. Bunga nggak lagi memanggil om Rohim dan tante Rima dengan sebutan om dan tante melainkan papa dan mama. 1 hal lagi, Bunga berterima kasih pada kak Arsyad, karena ini semua berkat pengorbanan kak Arsyad dan hal ini mungkin memang jalan yang telah diatur oleh Tuhan untuk Bunga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar