ANALISIS TOKOH HONG JEONG-HYE
BERDASARKAN PERKEMBANGAN MASA DEWASA
-
SINOPSIS
Hong
Jeong-hye seorang wanita muda yang membunuh suaminya karena kekerasan fisik
yang selalu diterimanya dari sang suami. Di dalam penjara, dia bertemu dengan
Moon-ok yang dulunya adalah seorang profesor di bidang musik di sebuah
universitas, tetapi kini dalam masa penantian untuk menjalani eksekusi mati
karena kasus kriminal berupa pembunuhan berencana pada suaminya dan selingkuhan
suaminya dengan menabrak mereka berdua ketika berjalan. Pada masa tahanannya,
Jeong-hye sedang hamil dan melahirkan bayinya di dalam penjara. Setelah 18
bulan, harus rela melepaskan anaknya untuk diadopsi oleh orang lain. Untuk
dapat menghabiskan waktu satu hari di luar penjara bersama anaknya, Jeong-hye
membentuk kelompok paduan suara penjara yang anggotanya adalah para napi
penjara tersebut. Moon-ok menjadi konduktor untuk paduan suara tersebut.
Para
narapidana dan petugas penjara sangat tersentuh dengan hasil musik dari paduan
suara tersebut. “Harmony” menyediakan sesuatu yang unik dari suatu set drama yang
mengambil setting tentang kehidupan penjara wanita.
ANALISIS
- FISIK
Pada
masa dewasa, individu telah memiliki kemampuan untuk bereproduksi yang
sebenarnya telah dimiliki pada masa remaja, terutama pada wanita. Begitu pula
yang terjadi pada Hong Jeong-hye yang nampak sedang melahirkan seperti pada
awal mula film. Jika dilihat dari aspek perkembangan fisik yang lain, pada awal
masa dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya. Individu memiliki kekuatan yang
terbesar, gerak-gerak reflek mereka sangat cepat. (Desmita: 234, 2005). Hong
Jeong-hye memiliki kekuatan yang cukup besar dan reflek yang baik terlihat dari
pertengakaran yang terjadi dalam kamar sel tahanannya antara dia dengan teman
satu sel yang baru bernama Kang Yu-mi karena tidak terima melihat perlakuan
Kang Yu-mi pada anaknya dan berusaha memukuli Yu-mi. selain itu, juga pada
reflek Jeong-hye yang dengan segara berlari dan menyelamatkan anaknya dari area
pertengkaran antara Yu-mi dengan Gang Star di lapangan.
-
KOGNITIF
Dalam perkembangan kognitif masa dewasa awal, terdapat
suatu pemikiran yang disebut pemikiran pascaformal (Postformal Thought) yang bersifat fleksibel, terbuka, adaptif, dan
individualistis. Pemikiran ini dicirikan oleh kemampuan untuk menghadapi
ketidakpastian, inkonsistensi, kontradiksi, ketidaksempurnaan, dan kompromi
(Papalia: 138, 2009). Pemikiran ini dilandasi intuisi dan emosi juga logika.
Hong Jeong-hye memberikan respon terhadap berbagai kejadian dan interaksi yang
membuka cara melihat yang tidak biasa dan menantang pandangan yang sederhana. Dia
mengajukan kepada kepala Penjara, Mr. Warden untuk membuka suatu wadah kegiatan
baru bagi para napi berupa Paduan Suara. Hal ini dialakukan setelah melihat
betapa hebatnya kelompok paduan suara yang pernah tampil di penjara. Selain
itu, dia juga mengajukan kepada Mr. Warden jika berhasil memunjukkan kemampuan
grup paduan suaranya, ia ingin dapat jalan-jalan keluar penjara satu hari saja
bersama Min-woo anaknya yang masih balita itu.
Selain itu, ini juga dilakukannya untuk menunjukkan bahwa para napi di
penjara tersebut tidak hanya dianggap orang jahat, buruk, dan tidak berguna.
Hong Jeong-hye termasuk dalam kriteria pemikiran
pascaformal yang Process-product shift.
Kriteria ini, menunjukkan suatu kemampuan melihat bahwa sebuah masalah dapat diselesaikan
baik melalui proses dengan penerapan umum dari masalah serupa atau melalui
produk, solusi konkret terhadap masalah khusus. (Papalia: 139, 2009). Sehingga:
“Dalam hal ini (masalah tersebut di atas) solusi terbaik yang tersedia adalah
dengan membuat suatu grup paduan suara yang baik dan bagus.” Selain itu,
Jeong-hye juga menunjukkan pemikiran pragmatis ketika dia harus membuat suatu
keputusan mengenai Mi-woo anaknya. Hal ini merupakan keputusan yang sulit. Dia
harus rela melepaskan anaknya untuk diadopsi orang lain agar dapat merasakan
memiliki keluarga yang normal, di lingkungan yang normal dan dapat memiliki
teman sepermainan. Atau tetap membiarkan Min-woo tinggal bersamanya di dalam
penjara dan meninggalkan suatu ingatan yang buruk bagi anaknya tersebut karena
harus tumbuh di dalam penjara. Hal ini merupakan suatu kemampuan yang dimiliki
Jeong-hye untuk memilih yang terbaik dari solusi logis yang mungkin mengenali
kriteria pemilihan yang dihadapi oleh Jeong-hye.
-
SOSIOEMOSIONAL
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari
individu menjadi lebih luas dan konpleks dibandingkan dengan masa-masa
sebelumnya karena mereka memasuki peran kehidupan yang lebih luas pula. Hal ini
disebabkan adanya perubahan secara fisik dan kognitif yang berkaitan dengan
penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang
berhubungan dengan keluarga dan pekerjaan. Menurut Erikson, pada masa dewasa
dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yakni keintiman, generatif,
dan integritas. (Desmita: 242, 2005).
Keintiman
Menurut Erikson, pembentukan hubungan intim merupakan
tantangan utama yang dihadapi oleh orang yang telah siap dan ingin menyatukan
identitasnya dengan orang lain, yang mereka dambakan menjadi hubungan yang
akrab dan dilandasi rasa persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang
dibutuhkan untuk memenuhi komitmen meskipun mereka harus berkorban untuk itu.
(Desmita: 242-243, 2005).
Cinta, dapat berlanjut pada pernikahan dan keluarga,
atau hanya hubungan cinta biasa saja. Hubungan intim pada Hong Jeong-hye
merupakan hubungan intim yang berlanjut pada pernikahan. Namun, hal ini
dimiliki oleh Jeong-hye sebelum dia masuk penjara karena tidak sengaja membunuh
suaminya ketika bertengkar. Hal ini membuktikan bahwa tidak selamanya hubungan
intim, terutama cinta (dengan lawan jenis) atau dengan pasangan hidup dapat
selalu berjalan dengan baik. Ada kala pasangan bertengkar, bahkan hingga
terjadi penganiayaan seperti yang dialami Jeong-hye.
Karena keberadaan Jeong-hye di penjara akibat membunuh
suaminya, keluarga yang dia miliki adalah Min-woo anak satu-satunya, dan
teman-teman satu selnya. Jeong-hye sangat mencintai dan menyangi Min-woo. Hal
ini sangat wajar mengingat Jeong-hye adalah seorang ibu dan orang tua tunggal
bagi anaknya, sehingga naluri keibuan-pun tentu akan muncul. Rasa kekhawatirannya
pada anaknya sangat jelas ketika Min-woo yang terjatuh karena didorong oleh
teman sesama napi dan dengan spontan menjadi marah dan agresif karena merasa
tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Ketika Min-woo sakit panas pada
malam hari, dan terlebih lagi ketika ia harus rela melepaskan Min-woo untuk
diadopsi oleh orang lain. Perpisahan dengan anak merupakan hal yang berat
sekali bagi orang tua. Selain itu, spontanitas Jeong-hye pada saat akan
mengikuti pagelaran paduan suara, tanpa sengaja mendengar nama Min-woo, ia
langsung berlari mengejar karena perasaan rindu yang besar pada anaknya karena
telah lama berpisah. Namun, kesedihannya sedikit berkurang ketika dia telah
melihat dan memeluk anaknya yang telah berumur 5 tahun tumbuh dengan baik,
meskipun hanya sebentar karena telah diadopsi.
Persahabatan
Tahapan
perkembangan pertemanan ada 4, yakni initial contact and acquaintanceship
(pertemuan/perkenalan), casual friendship (keterbukaan), close and intimate
friendship (dekat). Hong Jeong-hye telah masuk dalam tahap close and intimate
friendship, dimana hubungan pertemanan ini lebih eksklusif, dan saling
mengetahui satu sama lain dengan teman-teman satu selnya. Bahkan lebih, karena
teman-teman satu selnya telah dianggapnya keluarga sendiri, juga Moon-ok
(wanita tua yang satu sel dengan Jeong-hye) yang telah dianggapnya sebagai ibu.
Mereka saling membantu jika ada masalah dengan yang lain (saling membela).
Mereka juga terbuka satu dengan yang lain jika memiliki masalah dan merasakan
suka duka pun bersama. Mereka tertawa gembira bersama, dan sedih pun juga
bersama. Terlihat sekali ketika tiba waktu eksekusi mati bagi Moon-ok.
Jeong-hye sangat terpukul sekali dan tidak siap kehilangan Moon-ok pada saat
itu. Ia merasa kehilangan sekali dengan segera memeluk erat Moon-ok dan
menghalanginya agar tidak kelaura sel dan menjalani eksekusi. Jeong-hye menangis
dan sedih.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita, 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Papalia, Diane E. Olds, Sally Wendkos. Feldman, Ruth
Duskin. 2010. Human Development (Perkembangan Manusia). Jakarta: Salemba
Humanika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar