Senin, 09 April 2012

ANALISIS FILM YOURS, MINE & OURS

Kartegori   : Film
Jenis          : Komedi
Pemain      : Dennis Quaid, Rene Russo
Sutradara   : Raja Gosnell
Skenario    : Ron Burch & David Kidd
Produksi   : Metro-Goldwyn-Mayer Pictures, Nickelodeon Movies, Paramount Pictures & Columbia Pictures

Yours, Mine, and Ours
Ketika Dua Keluarga Besar Menyatu


Tinggal bersama keluarga besar, penuh dengan warna. Tapi bagaimana bila dua keluarga besar dengan kebiasaan berbeda bersatu? Tentu akan heboh. Begitulah cerita dari film Yours, Mine And Ours yang dibintangi dua aktor kawakan, Dennis Quaid dan Rene Russo. 

Quaid berperan sebagai Frank Beardsley, sebagai Admiral bintang dua di USCG (United State Coast Guard) yang memiliki 8 anak. Sebagai seorang tentara, Frank selalu berpindah rumah, dari kota yang satu ke kota lainnya. Meski mengeluh, tapi anak-anak Frank patuh dengan aturan dan disiplin yang ditegakkan ayah mereka. Sehingga mereka terbiasa hidup teratur dan penuh rutinitas. Situasi kehidupan di rumah Frank, berbeda dengan suasana di keluarga Helen North (Rene Russo) yang memiliki 10 orang anak –sebagian merupakan anak adopsi. Sebagai seorang disainer aksesori, kehidupan North sangat bebas dan penuh spontanitas. Tak heran bila rumah mereka tak pernah rapi, anak-anak bebas bermain di rumah bersama binatang peliharaan mereka, seekor anjing dan babi hutan.
Sebenarnya Frank merasa kesepian ditinggal istrinya. Tapi dia berhasil mendidik anak-anaknya dengan menerapkan disiplin ala militer. Teman Frank, sesama admiral, yang mengetahui isi hati Frank, lantas menjodohkannya dengan seorang wanita. Setelah ditemui, Frank sangat kecewa dengan perilaku wanita tersebut, apalagi akhirnya diketahui bahwa wanita tersebut adalah mantan istri temannya. Suatu hari Frank tak sengaja bertemu dengan Helen di sebuah restoran. Dari pertemuan inilah, keduanya kembali bernostalgia saat mereka sama-sama remaja. Kedua duda dan janda ini ternyata sempat menjadi ratu dan raja pesta prom, kebetulan pula kalau keduanya masih saling memendam cinta. Di picu akan keadaan mereka kini dan kenangan indah masa lalu, akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Keputusan yang mendadak dan mengejutkan inilah yang membuat cerita mengalir lebih meriah. Bagaimana masing-masing ‘keluarga besar’ berusaha mempertahankan gaya hidup mereka, membuat persaingan dan persinggungan yang berakibat pertikaian pun tak dapat dihindarkan. Baik Helen dan Frank bukannya tak mengerti, tapi mereka pun sempat kewalahan mengadapi ‘pasukan’ anak-anak ini.
Akhirnya, kedua kubu melakukan genjatan senjata. Target mereka kini bukan lagi saling menjatuhkan, tapi bagaimana memisahkan keduanya sehingga mereka bisa menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Dan strategi jitu 18 anak ini mampu memisahkan Helen dan Frank, namun tidaklah bertahan lama. Karena ke 18 anak ini menadari bahwa mereka telah saling ketergantungan, terutama sebagi keluarga. Sehingga, mereka pun kmbali bersatu, namun kini untuk tujuan mempersatukankembali kedua orang tua mereka yang telah sepakat untuk berpisah. Sebagai komedi romantik keluarga, film ini sangat menghibur meski leluconnya agak terkesan slepstik, tapi unsur ini malah memperkuat kesan yang membuat siapa saja tertawa.

Analisis
Dalam film ini terjadi percampuran dua keluarga besar melalui ikatan pernikahan, yakni antara keluarga Frank Beardsley,  dengan keluarga Helen North, seorang desaigner aksesoris, sehingga terbentuklah keluarga baru yang lebih besar. Pola keluarga ini termasuk pola keluarga yang umum terjadi di Amerika (Hurlock, 2000). Ada beberapa pola umum pada keluarga di Amerika, sedangkan pola keluarga pada film ini adalah:
-          Keluarga ini merupakan keluarga dengan ibu yang bekerja, hal ini karena mrs.x memiliki pekerjaan sebagai fashion desaigner.
-          Keluarga dengan komposisi baru, merupakan keluarga yang terbentuk kembali (reconstituted) setelah kematian pasangan masing-masing sebelum mereka akhirnya menikah. Karena terdiri dari dua keluarga, sehingga ketika telah bersatu maka muncullah istilah orang tua yang sebenarnya dan yang lainnya adalah orang tua tiri, hal ini berlaku bagi kedua belah pihak.
-          Keluarga angkat, karena dalam keluarga North, terdapat 6 anak yang diadopsi. Sehingga, jelas bahwa diantara mereka tidak terdapat hubungan darah dengan orang tua. Namun demikian, orang tua memiliki tanggung jawab hokum bagi anak mereka dan anak-anak tersebut mendapatkan nama keluarga layaknya anak kandung sendiri.
-          Keluarga antar ras, hal ini juga terdapat pada keluarga North, dimana keenam anak adopsinya memiliki ras yang berbeda. 1 anak kulit hitam, 2 anak kembar dari India, 1 anak dari Jepang, 1 anak dari China, dan 1 anak lagi kulit putih.

Sikap yang dimiliki oleh orang tua akan mempengaruhi cara mereka dalam memperlakukan anak-anaknya, dan perlakuan mereka terhadap anak sebaliknya mempengaruhi sikap anak terhadap mereka dan perilaku mereka (Hurlock, 2000). Nilai budaya mengenai cara terbaik memperlakukan anak, secara otoriter, demokratis, maupun permisif, akan mempengaruhi sikap orang tua dan cara mereka memperlakukan anak mereka (Hurlock, 2000). Pada kedua keluarga ini memiliki budaya dan cara yang berbeda dalam memperlakukan anak. Pada keluarga Breadsley, sedikit otoriter dan menonjolkan keteraturan serta kedisiplinan yang tinggi pada anak-anak mereka. Anak-anaknya diperlakukan selayaknya ia memperlakukan anak buah kapalnya. Sehingga yang terjadi adalah anak-anaknya pun memperlakukannya selayaknya kapten kapal yang harus selalu diikuti perintahnya dan bahkan memanggilnya tidak dengan sebutan ayah, melainkan Laksamana, sesuai dengan pangkat ayahnya di US Seals.
Sedangkan pada keluarga North, sangat berbeda jauh. Anak-anaknya diperlakukan sangat deokratis dan permisif. Sehingga anak-anak yang ada di rumahnya merasa bebas untuk melakukan berbagai hal. Karena ia menganggap, bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anaknya merupakan wujud dari kebebasan berekspresi. Selain itu, demokratis, dengan adanya saling mendengar pendapat dari anggota keluarga yang lain pada saat berkumpul yang dibantu oleh adanya ‘tongkat kebebasan’.
Ukuran sebuah keluarga akan berpengaruh pada hubungan keluarga. Namun, ukuran keluarga bukan satu-satunya yang menentukan kualitas keluarga (Hurlock, 2000). Jumlah sistem interaksi keluarga harus dipertimbangkan. Suatu sistem interaksi menjadi lebih rumit dengan tibanya anggota keluarga baru. Hal ini tidak hanya berlaku bagi keluarga yang baru saja mendapatkan bayi yang baru lahir, melainkan seperti pada film ini, dimana mereka harus berusaha bersatu dan saling menerima untuk menjadi suatu keluarga yang utuh. Semakin besar keluarga, semakin besar jumlah jumlah sistem interaksi dan biasanya semakin besar perselisihan di rumah. Hal ini dikarenakan adanya persaingan antar saudara (sibling rivalry) ataupun kurangnya penerimaan diantara mereka sebagai saudara. Sehingga yang terjadi adalah, suasana rumah menjadi tidak sehat, karena timbulnya perselisihan dan tidak memungkinkan masing-masing anggota keluarga dapat hidup harmonis dengan anggota keluarga lain. Dan sebagai hasilnya adalah, karena menjadi orang tua dari keluarga besar, mr.x akan lebih sering menggunakan metode pendidikan yang otoriter, selain karena nilai budaya yang dianut.
Dalam upaya pencapaian tujuan bersama dalam sebuah keluarga, perlu adanya kerja sama dari tiap anggota keluarga. Hal ini dilakukan oleh ke 18 anak=anak tersebut, meskipun sebenarnya memiliki tujuan negatif. Ketika anggota keluarga melakukan suat kegiatan secara bersamaan, sebenarnya telah menimbulkan perasaan nyaman satu sama lain, yang tidak disadari oleh tiap-tiap anak tersebut. Hal ini dikarenakan adanya pembiasaan dalam diri mereka yang mereka sadari, namun efeknya tidak disadari, yakni perasaan nyaman tersebut.
Pada hubungan suami-istri, seandainya merasa kecewa dengan peran sebagai orang tua, karena perubahan radikal yang yang tidak diharapkan, perselisihan suami-istri akan berembang. Orang tua yang kecewa kemudian bersikap sangat kritis terhadap pasangannya dan anak-anak. Bila suami dan istri keduanya kecewa, hubungan diwarnai perselisihan akan lebih memburuk lagi seperti yang terjadi pada keluarga ini. Mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi dan yang telah direncanakan oleh anak-anak mereka. Semua kesalahan yang terjadi merupakan kesengajaan untuk membuat mereka bertengkar sehingga kembali berpisah. Dan kekecewaan ini benar terjadi ada keduanya, sehingga terjadilah perselisihan dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk bercerai karena mereka beranggapan bahwa mereka tidak cocok satu sama lain, karena perbedaan prinsip yang paling mendasar sekalipun.

Daftar Pustaka
Hurlock, Elizabeth B. 2000. Perkembangan Anak. Jilid II. Jakarta : Erlangga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar