Panduan Lengkap Cara Menasehati Istri dengan Cinta
Pengarang : Heni A. Rifai
Penerbit : Maslaha
Tahun Terbit : 2009
Tebal
Buku : 144 Halaman
Ukuran : 18,2 Cm X 12,1 Cm X 1
Cm
Buku ini merupakan karangan dari Heni A. Rifai yang juga menulis buku “Super Wife, Super Mom, Super Women” yang diterbitkan oleh Penerbit Maslaha pada tahun 2009. Buku ini berisi tentang bagaimana kiat-kiat bagi para suami dalam menjalin komunikasi khususnya ketika menghadapi suatu permasalahan dalam keluarga maupun sekedar menasehati, namun tidak membuat istri merasa dikuliahi atau bahkan dihakimi. Buku ini disajikan melalui sudut pandang Psikologi dan Islami. Buku yang berisi lima bab ini dibahas secara mendetail dan “apik”, sehingga pembaca dapat memahami isi buku ini dengan baik.
Seperti
kita ketahui bersama, dalam hubungan suami-istri, selalu identik dengan istilah
keintiman. Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan
orang lain dan membagi pengalaman dengan mereka. Ketika telah memasuki ikatan
pernikahan,hubungan intim ini ebih kepada hubungan suami dan istri. Hal ini
sesuai dengan tahap perkembangan Erikson, dan jika seseorang tidak dapat menjalin
hubungan intim dengan orang lain akan terisolasi (Erikson dalam Santrock, 2009).
Bab satu,
dengan judul “Karena Wanita Ingin
Dimengerti” berisi tentang seputar kondisi fisik dan psikologis seorang
wanita, sifat-sifat baik dan buruknya dari seorang wanita. Secara fisik maupun
psikologis, wanita sebagian besar dianggap lemah dalam menghadapi masalah,
ataupun lemah fisiknya jika dibandingkan dengan pria. Namun, dibalik
kelemahannya tersebut wanita menyimpan berbagai kelebihan yang luar biasa.
Wanita memiliki pengaruh besar dalam kehidupan kaum pria yang dekat dengannya.
Contohnya saja, seorang istri berperan besar dalam mendampingi suaminya saat
membuat berbagai kebijakan dan keputusan dalam keluarga. Begitu pula seorang
ibu sanagt besar pengaruhnya dalam pendidikan yang diberikan pada putra-putri
tercinta. Dalam memberikan nasehat kepada seorang wanita baik itu seorang istri
maupun ibu, seorang pria atau suami perlu tahu sifat-sifat baik yang ada pada
wanita karena dapat membantu perannya sebagai seorang wanita dalam sebuah
keluarga, seperti lembut, sabar, setia, berbakti, tekun, rajin, mudah diajak
pada kebaikan, mudah mengalah, dan mudah meminta maaf. Sedangkan sifat-sifat
buruknya seperti suka membantah, suka bergunjing, banyak bicara, pencemburu,
dan terkadang kurang mensyukuri kebaikan suami. Ada sifat, ada pula karakter
umum wanita yang perlu diketahui oleh pria / seorang suami.
Selain itu, secara tradisi, perkawinan menuntut
perubahan gaya hidup yang lebih besar bagi wanita dibandingkan dengan pria. Seorang
pria yang sudah menikah, biasanya melanjutkan karirnya, sedangkan perempuan
harus berjuang dengan tuntutan peran dan tanggung jawab swebagai istri dan ibu.
Sehingga tidak jarang bagi para wanita harus melepaskan pekerjaannya setelah
mereka menikah. Hal-hal semacam ini dapat menyebabkan munculnya suatu
permasalahan dalam hubungan pernikahan. Hal ini sesuai dengan Penelitian
nasional yang dilakukan Elizabeth Douvan dan teman-temannya, dilaporkan bahwa
hampir 60% pria dan wanita dari seluruh partisipan mengaku bahwa kadang-kadang
mereka mengalami berbagai masalah dalam kehidupan pernikahan (Santrock, 2009).
Mekipun konflik-konflik dalam hubungan pernikahan
tidak mungkn dihindarkan, namun banyak juga orang yang berusaha keras untuk
menciptakan suatu bentuk ikatan yang memuaskan, yakni dimana kedua pasangan dapat saling memperoleh
imbalan kepuasan. Memperhatikan daftar panjang tentang berbagai kesulitan atau
masalah yang umum terjadi dalam pernikahan, dapat dipahami bahwa perkawinan
yang bahagia dan langgeng membutuhkan dua orang yang sepenuh hati, mempunyai
cukup keterampilan dalam menghadapi dan mengatasi konflik dan setiap masalah
yang timbul. Pada bab dua, dengan judul “Ada
Apa Denganmu, Sayang…” berisi tentang berbagai penyebab kesalahan istri,
hal-hal yang paling sering memicu perselisihan, peran suami sebagai seorang
pendidik dalam keluarga. Secara umum, kesalahan yang dilakukan oleh seorang
istri disebabkan oleh dua faktor, internal (dari dalam dirinya, misalnya
karakter atau latar belakang keluarga) dan eksternal (dari luar, misalnya
suami, lingkungan sekitar, maupun pengaruh media). Namun, dari sekian banyak
faktor, yang paling sering terjadi adalah berkaitan dengan interaksi antara
suami dengan istri, karena dari sekian banyak faktor, pada faktor inilah
intensitas bertemu suami dengan istri lebih tinggi dibandingkan dengan
intensitas salah satu pasangan berhubungan dengan faktor lain. Umumnya,
disebabkan adanya perbedaan sudut pandang, kurangnya penghargaan atau respek
dari pasangan, harapan yang kurang realistis terhadap pasangan, kecemburuan
yang berlebihan, sifat dan perilaku keras dan kasar. Selain itu, pada bab ini
tersedia tabel hubungan suami dengan istri yang harus dituliskan bersama-sama
sebagai bentuk introspeksi bersama.
Bab
tiga, dengan judul “Saat Masalah Melanda”
berisi tentang bagaimana yang harus dilakukan oleh seorang suami ketika
permasalahan melanda mereka. Dalam hal ini, dibutuhkan kemampuan dari kedua
pasangan tersebut untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya secara efektif
(Desmita, 2010). yang pertama harus dilakukan adalah DIBICARAKAN, caranya? Bicara itu ada seninya agar dapat menarik
perhatian bagi si pendengar, apalagi dalam hal menasehati. Butuh sesuatu yang
menyentuh hati agar bisa mencapai sasarannya. Dalam hal ini ada tahapan yang
harus dilakukan oleh seorang suami agar tidak terjadi kesalahan dalam
mengkomunikasikan terhadap istri. Tahapan tersebut dapat saya jabarkan dalam
sebuah skema berikut:
Mereka yang mempunyai ikatan
pernikahan yang kuat biasanya selalu berusaha keras agar komunikasi dan
interaksi di antara mereka senantiasa efektif (Desmita, 2010). Menasehati istri
memang gampang-gampang susah. Terlebih jika karakter istri adalah orang yang
mudah tersinggung. Namun, seorang suami tidak mungkin membiarkan istri terus
melakukan kesalahan. Caranya adalah seperti skema tersebut, hanya tinggal
tergantung waktu, tempat, dan cara penyampaiannya. Setelah sebagian besar
masalah telah usai, dan istri menunjukkan perbaikan sesuai dengan harapan, maka
yang harus dilakukan selanjutnya adalah tetap menjaga keberhasilan tersebut
dengan sebaik-baiknya, termasuk juga keberhasilan dalam menasehati istri.
Karena bagaimanapun, suami adalah pemimpin rumah tangga, hal ini berarti suami
memberi pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk akhlaq dan perilaku anggota
keluarganya.
Bab empat, dengan judul “Merekatkan Hati dengan Istri” berisi tentang cara yang dapat dilakukan oleh suami ketika ingin menjalin kembali komunikasi setelah terjadinya pertengkaran-pertengkaran dalam rumah tangga. Pada dasarnya, wanita memang berbeda dengan pria, terutama dalam hal psikologis, dimana suami sering mendapati bahwa mood istri sering kali berubah-ubah dalam waktu singkat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh hormon, sehingga jadi mudah uring-uringan, terlebih lagi pada saat haid. Lebih dalam, Rifai menjelaskan tentang cara efektif yang dapat digunakan dalam menjalin komunikasi dengan pasangan, diantaranya adalah untuk tidak memonopoli pembicaraan, jangan merasa bahwa pendapat sendiri adalah yang paling benar, bicara harus sesuai dengan tingkat pemahaman pasangan, perlu untuk berempati dan bersimpati, serta perlunya kontak mata dan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian kita terhadap lawan bicara.
Buku
ini sangat bermanfaat bagi kelangsungan hubungan suami istri agar tetap
harmonis, dan tetap dalam kaidah Islam. Karena pada akhirnya, sebuah
kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat dijelakan dengan
kata-kata. Ia adalah sesuatu yang indah untuk dirasakan yang datang dari rasa
menghargai segala yang kita miliki dan selalu mensyukuri apa yang dikaruniakan
oleh Illahi Robbi.
DAFTAR PUSTAKA
Rifai, Heni A.
2009. When a Man Love a Woman (Panduan Lengkap Cara Menasehati Istri dengan
Cinta). Yogyakarta: Maslaha.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja
Rosda Karya.
Santrock, John
W. 2009. Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Edisi Kelima.
Jakarta : Erlangga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar